Content

Sunday, November 3, 2013

Gunung Semeru

Dengan menumpang truk sewaan mas Pras yang sudah di booked sebelum tiba di kota Malang, kita sebagai rombongan tiba di Ranu Pani pasca waktu sholat Ashar. Dingin sudah mulai menyulut sekujur tubuh kala itu, kami mencari tempat untuk berbenah, bersiap untuk mendaki. Dan berhasil menemukan sebuah rumah tidak jauh dari awal start jalur Ayek-ayek. Cukup indah pemandangan sore itu, dengan terlihatnya susunan jeep-jeep dengan komposisi yang rapih. 

 
Foto sebelum memulai pendakian



Dari kejauhan tampak kabut mulai menelusuri alas bukit, menerobos tajam memasuki semak hutan dan membelah pepohonan tiap menitnya. Siul burung dan hembusan angin ikut meramaikan aktifitas sore itu meski samar. Ya, Semeru memang mempunyai banyak cerita keindahan di dalamnya. Meskipun tidak semua yang mengunjunginya tidak menemukan apa itu keindahan yang ingin dirasakannya.

Perjalanan kali ini dilakukan dengan sebelas orang, saya sendiri hanya mengenal empat orang diantaranya. Menjadi menarik bagi saya ketika bertemu dengan teman baru di perjalanan dan melakukannya secara bersama-sama. Setelah menyelesaikan urusan registrasi, rehat dan mengisi energi, awal perjalanan dimulai pada pukul setengah enam sore. Landengan Dowo, Pos satu, Pos dua, Watu Rejeng, Pos tiga, Pos empat hingga Ranukumbolo berhasil dikebut dalam waktu 3 jam. Seharusnya waktu normal memakan waktu 4 hingga 5 jam. Sesampainya, dengan kondisi gerimis yang menyelimuti dan dingin yang menusuk hingga menembus permukaan kulit, kami bersegera memasang tenda untuk menghangatkan kondisi badan.



Sinar matahari menembus tenda pagi itu, kita terbangun karenanya. Jarum jam mengarah ke bilangan 8 dan 12, yang artinya jam 8 pagi waktu setempat. Kita semua terlewat momen matahari terbit, biarlah tidak apa. Karena terlewat, akhirnya kita memutuskan untuk bermalam lagi di Ranukumbolo. Sebelum menggeser tenda menyebrang danau, mendekati tanjakan cinta kita melakukan sholat dzuhur bersama di pinggir danau. Sungguh luarbiasa spiritual yang didapat, meskipun tetangga sorak - sorak dengan alunan gitar mereka tidak menyulutkan semangat kami untuk beribadah.

Malam datang, serbuan udara dingin juga datang. Malam dihabiskan dengan bertukar cerita. Hingga masing-masing personil mulai merebahkan tubuhnya dan membungkusnya rapat-rapat dan akhirnya terlelap. Paginya kita dikagetkan dengan, butiran-butiran es yang berada diatas tenda. Sungguh dingin luar biasa malam itu sudah pasti. Malam itupun saya sempat menggigil, karena terkena tetesan butiran es yang menembus sisi terluar tenda, dan saya pun menjadi hangat karena 2 rekan saya memeluk erat-erat tubuh saya.



Pagi itu, setelah dikagetkan dengan butiran-butiran es, kita bergegas untuk bersegera melanjutkan perjalanan. Kalimati adalah tujuan kita selanjutnya. Setelah melewati tanjakan cinta yang dipenuhi dengan mitos dan cerita-cerita yang menarik perhatian, kita disuguhkan dengan padang rumput atau savana yang tinggi menjulang. Sungguh indah, terlihat puncak Mahameru menyeruak dari bukit-bukit. Sungguh ingin jumpa. Savana, diterobos dengan kondisi terik matahari yang menyengat dan debu-debu yang berterbangan. Savana disini tingginya diatas 150 cm bahkan melebihi tinggi tubuh saya, yakni 174 cm.

Setelah perjalanan panjang melewati oro-oro ombo, Cemoro kandang dan akhirnya tiba di Pos Kalimati, kita mendirikan tenda. Tampak beberapa pendaki lainnya sudah beristirahat, tampak pula para porter dengan seragam khasnya sesekali menawari saya untuk membeli rokok yang dijualnya. Setelah tenda berdiri kokoh, semua beristirahat. Senja datang, disusul dengan munculnya bintang sebagai penanda malam. Tampak 3 orang bule di samping tenda sedang membuat api, untuk menghangatkan diri.

Jam menunjukkan pukul 22:00, kita kembali mencharge stamina dengan merebahkan diri sembari obrol obrol lucu hingga tertidur. Alarm pun tidak luput saya setel. Yup, kita berencana summit pukul 0:00 .

Dering jam menyadarkan jiwa dari mimpi yang indah. Ternyata sudah waktunya untuk bergegas. Dengan taktis dan tangkas kita memulai perjalanan. Ramai sinar senter malam itu, seperti bintang beterbangan di langit gelap. Jalan panjang dan ramai lancar. Setelah melewati batas vegetasi akhir, Arcopodo, kita akan berhadapan dengan jalur batuan dan pasir, dan tentunya langit luas membentang dengan bintang-bintang yang sangat indah.

Sepanjang jalur Arcopodo - Mahameru, mental diuji, dan terlihat satu-persatu mulai lelah. Tak sedikit para pendaki enggan melanjutkan summit attack nya. Matahari mulai menampakkan sinarnya di kejauhan timur. Saya mempercepat langkah meski tetap lambat. Sabar dan akhirnya kesabaran berhasil saya lewatkan. Puncak Mahameru, saya tiba pada pukul 07:00 Wib setelah lebih kurang 6 jam pendakian.




Semuanya terbayar, tak lupa selalu bersyukur, berterimakasih kepada Sang Pencipta.







0 comments:

Post a Comment