Content

Tuesday, December 30, 2014

Gunung Prau

Aku dan beberapa temanku dalam kebimbangan mencari hiburan baru di hari-hari libur yang sesegera menyerbu. Dengan celetukan seorang teman yang memuntahkan kata demi kata yang terangkai menjadi suatu gagasan istimewa, Diputuskan untuk pergi ke Gunung Prau dan teraudisi menjadi 4 kontestan. Tak seorangpun mengenal identitas Gunung Prau, namun tak menyurutkan hati untuk bersilaturahmi dengannya.

Kita memulai langkah dari ibukota, Terminal Rawamangun. Dengan masing-masing selembar pecahan 100rb dan 10rb, bis Rosalia Indah mengantarkan kami hingga Wonosobo. Lalu, tak mau bersusah kita melanjutkan dengan taksi menggunakan argo dan terakumulasi nominal 150rb hingga pos Patak Banteng. Saya selaku tuan rumah sekaligus panitia menemui mas Pii yang merupakan penjaga pos Patak Banteng, karena sudah bercakap melalui pesan singkat saya menyewa tenda milik Dieng Indonesia melalui dirinya dan membayar biaya registrasi sebesar 5 ribu.

Sore itu hujan membasahi tanah para dewa, Dieng dan sekitarnya. Itinerary yang sudah matang dipersiapkan pun harus dibuat ulang. Ratusan hingga ribuan rintik hujan berlanjut hingga gelap datang, menghasilkan dingin yang mengelupas permukaan kulit dan akhirnya bersentuhan dengan tulang. Para pendaki juga semakin banyak namun petir tak kunjung hilang. Nasihat mas Pi'i pun akurat, hujan akan hilang ketika hari berikutnya datang.

Memulai langkah dengan memenuh harap, melihat semuanya sama-sama memulai debut di gunung ini. Saya memimpin di barisan depan dengan pertimbangan Wonosobo adalah ranah kelahiran saya, dan apa daya jalur terjal menjadi kejutan yang tak kunjung berakhir hingga mendekati puncak. Sepanjang jalan kami diwajibkan mengangkat kaki lebih tinggi untuk melangkahkan akar, batu dan batang pepohonan. Hingga akhirnya bintang-bintang dilangit menujukkan rupanya, ingin sekali digoda.



Setelah membunuh waktu 4 jam, langkah kaki terhenti di puncak Prau sebelah Barat. Tebaran bintang menyambut, penuh kilau, terkadang berkedip. Sehabis mengucapkan syukur dalam hati dan terkesima dengan pesona bintang, tenda dengan cepat berdiri dan memberikan fungsinya. 



Gunung Prau merupakan gunung batuan magnet yang mempunyai ketinggian sekitar 2656 mdpl. Gunung yang sangat berbahaya jika petir datang mengunjunginya karena memiliki kandungan tanah yang didominasi dengan magnet, terbukti dengan tidak berfungsinya kompas yang saya bawa. Selain itu, hutannya tergolong masih asri dengan ditandai dengan berbagai tumbuhan seperti kantong semar, tumbuhan paku dan satwa.


Niat untuk bermalam pun diurungkan, setelah dering handphone mengagetkan kita dari dalam tenda. Mas Pi'i tertera di layar, mengisyaratkan untuk segera turun dan mengamanahkan untuk meneruskan isyaratnya kepada pendaki lain. Sungguh luar biasa. Saya pun mendatangi tenda demi tenda yang ada untuk menyampaikan amanat. Dan tak lama setelah meninggalkan puncak, hujan dan petir datang menerjang.

Dan beberapa langkah setelah meninggalkan pos pendaftaran, saya berucap, dalam hati, bahwasannya saya jatuh hati dengan tanah ini dan berjanji akan kembali kesini lagi.



untuk mencapai lokasi :
- Jakarta - Wonosobo , menggunakan transportasi bis Rosalia Indah kelas Executive dengan harga Rp. 110.000 include makan malam 1 kali. Keberangkatan dari terminal Rawamangun.
- Wonosobo (terminal Mendolo) , menggunakan minibis jurusan Dieng dengan harga Rp. 10.000 .








0 comments:

Post a Comment