Content

Wednesday, December 31, 2014

Gunung Rinjani


Sebagai mahasiswa yang akan menjalankan ibadah wajibnya yakni Tugas Akhir, saya memiliki ambisi untuk bisa pergi ke Rinjani sebelum disibukkan dengan kehidupan paska lulus kuliah yang notabene memiliki sedikit waktu untuk bisa berlibur. Setelah perbincangan dengan seorang teman sesama Tugas Akhir dan sesama menyukai hobby mendaki, kita pun sepakat untuk pergi ke Rinjani dengan syarat utama : LULUS KULIAH. Kita pun bernazar.

4 bulan Tugas Akhir pun berlalu, dan akhirnya saya dan seorang teman saya, Fajar resmi berpredikat Sarjana Seni, Allhamdulillah.

Awalnya, saya selalu mengajak beberapa teman saya untuk ikut mendaki Rinjani. Namun karena beberapa faktor, mereka tidak bisa ikut dengan kami. Dan dipastikan saya hanya berdua saja mendaki Rinjani. Rasa khawatir menyelimuti, tapi janji sudah terucap kata. (Memang, minimal personil pendakian adalah 3 orang, jadi ketika salah satu anggota sakit 2 orang temannya bisa membantu membawanya turun).

2 minggu waktu persiapan terasa tidak cukup. Saya mulai gemas dengan informasi-informasi yang beragam, transportasi, how to survive in Rinjani (jalur, pos, estimasi waktu, sumber air dll) hingga hal kecil lainnya. Sementara Fajar disibukkan dengan persiapan gears yang akan dibawa.

Rabu 17 September 2014
#FadliFajar berangkat menuju lombok dengan pilihan transportasi darat dan pilihan jatuh kepada bis Safari Dharma Raya. Bis jurusan Jakarta - Bima ini memulai memutar laju rodanya dari garasi Kebayoran Lama. Dengan memberikan uang 550k kepada petugas tiketing #FadliFajar diantarkan ke kota Mataram dengan waktu 3 hari 2 malam (jika dihitung jam hanya 48 jam) dengan service makan 4 kali.

Bis Safari Dharma Raya

Fajar dengan diatas kapal dengan background pulau Lombok !

Jumat 19 September 2014 
Sesampainya di pasar Aikmel pukul 11:00 WITA, sepi tidak tampak seperti pasar kebanyakan. Lalu datang menghampiri, seorang bapak berkisar 50 tahun menawarkan #FadliFajar untuk mengantarkan ke tempat dimana pick-up menunggu calon penumpangnya untuk diantarkan ke desa Sembalun. Detik terus melangkah, #FadliFajar masih menunggu. Menunggu laju roda pick-up karena muatan tak kunjung penuh. Satu jam, dua jam dan akhirnya pick-up bergegas. Ada ibu bapak tua dan 1 orang cucunya ikut serta dengan pick-up ini, sepanjang jalan berpuluh-puluh kata terucap, interaksi yang sangat menyenangkan buat saya hingga akhirnya mereka tiba di tempat tujuan dan menawarkan #FadliFajar untuk bersinggah di kediamannya. (Saya rindu ketiga orang itu disaat menulis catper ini)

Semilir angin, biru langit dan teduhnya lingkungan menyambut hangat kedatangan #FadliFajar di desa Sembalun. Setelah membeli tiket dengan harga 5 rb/hari , #FadliFajar kembali melanjutkan perjalanan menuju jalur bawanahu dengan pick-up tadi dan karena sudah terlalu lelah #FadliFajar memutuskan untuk beristirahat dirumah warga dan bersiap untuk pendakian besok.


Pick-up yang kita naiki, disana disebut truk bawang


Sabtu 20 September 2014
Dering jam tangan berbunyi lantang, tepat jam 9 #FadliFajar memulai langkah menuju satu titik tujuan : Puncak Dewi Anjani. Semangat menggebu, memotong jalur persawahan warga, melintasi kali mati dan hingga menembus belantara hutan sebelum akhirnya berhasil menemui savana jalur Sembalun yang sudah menggema kedahsyatannya hingga mancanegara. Sungguh luar biasa pemandangan di bukit-bukit Savana Sembalun, terik panas sang matahari pun tidak mengecilkan nyali #FadliFajar untuk terus melangkahkan kaki hingga mendaratkan kaki di pos 1 pada pukul 11:00 WITA, ya 2 jam!

Pose dulu setelah 50 meter berjalan dengan background Gunung Rinjani

Setelah 1 jam melepas lelah dan saling bertukar kata dengan pendaki lainnya, #FadliFajar kembali memulai misi dengan menuju pos 2 terlebih dahulu. Jalur masih didominasi padang savana yang megah, tak jarang angin datang menyambut dengan kencang beradu dengan teriknya matahari siang itu, tak boleh lama beristirahat di jalur ini, permukaan kulit bisa kering dan tentu saja menghitam. Selain disuguhkan dengan pemandangan yang indah, #FadliFajar juga disuguhkan dengan banyaknya pendaki mancanegara yang kuantitasnya melebihi pendaki lokal.


Jam 14:00 WITA #FadliFajar mendaratkan kaki di pos 2. Pos dimana sumber air memancarkan tetesannya. Momen makan siang memang paling pas dilakukan di pos ini. Sesekali iri dengan service porter yang memasakkan makanannya kepada sang 'raja'. #FadliFajar bertemu seorang senior di kampusnya, Griksa. Mendengar ucapannya ternyata dia menjadi guide bersama teman-teman lainnya.

Takjub dengan semua karunia Tuhan, tidak sadar hanya tersisa #FadliFajar di Pos 2. Pada awalnya #FadliFajar merupakan grup pertama yang melaju via bawanahu bertukar posisi menjadi akhir. Tak apa, jalan masih panjang. #FadliFajar berusaha menikmati setiap detik momen perjalanan ini dan selalu bersyukur.


Perjalanan menuju pos 3 masih sama dengan pos 1 ke pos 2, savana tetap mendominasi. Pos 3 merupakan titik dimana savana benar-benar kita tinggalkan, berganti dengan bukit-bukit yang notabene tidak habis-habis dimana biasa dikenal dengan bukit penyiksaan dan bukit penyesalan. Matahari mulai redup, digantikan dengan bulan yang akan menjaga kehidupan malam. Karena itu, #FadliFajar memutuskan untuk bermalam di pos 3. Dan ternyata hanya #FadliFajar saja yang bermalam di pos itu. Sempat khawatir dengan peristiwa-peristiwa yang sedikit mengganggu namun pemikiran positif tetap terus muncul dalam masing-masing benih otak hingga akhirnya pagi pun menyambut sembari kicauan burung merdu turut serta.


Pemandangan Pos 1 dan Pos 2, savana ! Yes mirip desktop windows anyway :p

Hingga Pos 3 jarang sekali ditemui pohon, selalu savana dan terik luar biasa

Bukit Penyiksaan ! Ampuun



Minggu 21 September 2014
Setelah kalori-kalori mencumbu usus dan organ lainnya dan menjadikannya energi baru, #FadliFajar bersegera memulai kembali perjalanan. Pukul 10:00 WITA kala itu. 9 bukit penyiksaan atau entahlah saya sendiri enggan menghitungnya bahkan melihatnya, cukup terus melangkah melihat kemana tapak kaki kemana akan menancap di permukaan tanah, sesekali melihat keatas untuk memastikan sudah sejauh apa meskipun muak, tetapi belum juga. Berkali-kali meredakan otot agar tidak kram. Fajar sempat mual di jalur ini dan perlu mendapat istirahat yang tidak biasa. Lebih dari 1 jam beristirahat, bersembunyi di balik pohon di tepi bukit saya pun ikut menikmatinya, hingga akhirnya tidak sedikit pendaki lainnya melintas dan dipersilahkan.

Setelah perjuangan panjang, bukit ini berhasil dilalui. Sabar adalah kunci dari kesuksesan melewati bukit penyiksaan ini. Punggung bukit menyambut, sebul pun turut. Saya dikagumkan dengan pemandangan yang luar biasa! Pos 1, 2, 3 tampak dari punggung bukit yang bernama Plawangan Sembalun ini. Seperti menyusuri punggung sapi, panjang lurus ke depan dengan kiri kanan jurang. Sisi kanan dari leher bukit disuguhkan dengan birunya danau segara anak yang megah. Bersyukur. #FadliFajar memutuskan membuka tenda jauh dari awal punggung bukit, dekat dengan leher bukit dan sumber air.


Malam, angin mengibaskan dirinya menusuk tenda-tenda di Plawangan Sembalun. Terus menerus hingga tengah malam.


Senin 22 September 2014
Pukul 03:00 WITA beberapa pendaki bersikeras melanjutkan menuju puncak. #FadliFajar masih memantau situasi, angin tak kunjung surut. Dan diputuskan untuk tidak pergi ke puncak. Dan ternyata benar, hampir semua pendaki tidak sampai puncak karena angin yang terus berhembus tak lelah untuk berhenti. 

Hari ini dihabiskan dengan bermain, bermain dengan kamera nikon. Tak pernah puas, namun harus menyisakan untuk bermain di puncak nanti malam. Tak lupa berkunjung ke tenda-tenda tetangga, saling bertukar informasi, hingga rencana numpang bermalam di rumah salah satu pendaki di Mataram setelah misi selesai.


View 1

View 2

View 3

View 4


Selasa 23 September 2014
Matahari menyambut pagi, seiring dingin mengikis permukaan kulit. Pukul 04:00 setempat kita memantapkan langkah, menerobos ruang gelap, akar, pepohonan perlahan berhasil dilintasi. Hingga akhirnya berhasil mencapai punggung bukit dengan lebar grid tipis, kiri - kanan berjarak 1,5 - 2 meter. Sisi kanan disambut dengan birunya danau Segara Anak dengan gunung Barujari, sungguh indah. #FadliFajar terus melangkah, entah sudah berapa jam dihabiskan untuk mencapai jalur batu kerikil yang sesungguhnya jalur ini merupakan jalur yang memakan waktu banyak. Saya tak sanggup untuk melihat jalur keatas, enggan. Pandangan saya fokuskan kepada langkah kaki, entah sudah berapa ratus langkah berpijak. 10 menit menjelang azan dzuhur #FadliFajar tiba di puncak Dewi Anjani dengan ketinggian 3726mdpl. Sungguh luar biasa! klimaks. Terik matahari kala itu tak menyurutkan nazar kami untuk berwisuda disana, ya kami sudah resmi menjadi sarjana, Sarjana Seni!



HORE SARJANA ! HORE MISI BERHASIL !




Untuk mencapai lokasi :
Banyak transportasi menuju Lombok bila berangkat dari Jakarta, untuk yang mempunyai budget lebih bisa menggunakan pesawat terbang. Sesampainya di Lombok bisa menggunakan bis Damri untuk mencapai Mataram dan dilanjutkan dengan alat transportasi umum lainnya (tergantung jalur pendakian)

Saya menggunakan :
- Jakarta - Pasar Aikmel Lombok (jalur darat) , menggunakan bis Safari Dharma Raya dengan harga Rp. 550.000 include makan 4 kali. Keberangkatan bis dari pool Kebayoran Lama dengan waktu tempuh 3 hari (jika dihitung dengan hitungan jam mencapai 48 jam)
- Pasar Aikmel - Pos Sembalun Lawang , menggunakan pick up/truk bawang dengan ongkos Rp. 20.000

1 comments:

  1. Perkenalkan, saya dari tim kumpulbagi. Saya ingin tau, apakah kiranya anda berencana untuk mengoleksi files menggunakan hosting yang baru?
    Jika ya, silahkan kunjungi website ini www.kumpulbagi.com untuk info selengkapnya.

    Oh ya, di sana anda bisa dengan bebas mendowload music, foto-foto, video dalam jumlah dan waktu yang tidak terbatas, setelah registrasi terlebih dahulu. Gratis :)

    ReplyDelete