Content

Wednesday, July 8, 2015

Gunung Batu Jonggol

Sudah lama dalam angan untuk berkunjung ke gunung Batu Jonggol ini sebenarnya. Demikian juga janji dengan seorang teman bernama Upi untuk meminta mengantar saya kesana. Namun waktu seringkali tidak bersahabat. Sebagai pekerja full time, liburan memang susah sekali diatur. Saya sendiri paling tidak betah dalam kurun waktu satu bulan tidak mengunjungi suatu tempat baru.

Jumat sore, tanggal 27 Februari ketika kerjaan sedang bisa diajak kompromi saya mengirim pesan melalui watsap ke Upi. Mengajaknya untuk pergi besok ke gunung Batu Jonggol. Malamnya Upi membalas mengiyakan. Sungguh planning singkat. Disepakati ba'da Subuh kita jalan.

Namun, Sabtu itu sungguh malas. Terlebih saya sebagai pekerja full time yang sungguh merindukan weekend. Saya kesiangan, demikian juga Upi. Jam 6 baru berangkat. Matahari sudah menyapa. Perjalanan ditempuh mulai dari gas alam - Cibubur - Cikeas hingga Jonggol. Kita sempat beristirahat di sebuah alfamart untuk sekedar sarapan. Juru parkir tak lepas dari 'keakraban' kita. Dia menjelaskan apa yang belum saya ketahui dan Upi ketahui mengenai Gunung Batu. Saya mengiyakan.

Setelah menempuh kurang lebih 60 km dari rumah, tibalah di parkiran titik awal pendakian. Waktu tempuh lebih dari 3 jam. Jarum jam menunjuk ke angka 09:35 waktu itu. Setelah 'recovery' karena pantat yang lumayan terkikis karena perjalanan yang jauh dan jalan yang rusak, kita bergegas memulai pendakian.

Awan menutup permukaan matahari, dan angin pun mengiringi. Lumayan kaget dengan jalur yang terbilang terjal karena saya sama sekali tidak melakukan persiapan fisik. Namun semangat tak boleh ada kata 'titik'. Sesampainya di pertigaan, kita beristirahat. Awan masih menyelimuti, angin tak jua pergi. Kita pun terbawa suasana. Hingga jam menunjuk kearah 11:00 langkah kaki tak kunjung beranjak. Cuaca diatas memang terlihat tidak baik sehingga jam 12:00 baru diputuskan untuk melaju.




Setengah jam berjalan, kita mulai lapar dan Upi mulai memasak mie instan. Diatas jas hujan kita menyantap mie yang begitu enak!. Cuaca kembali tidak bersahabat. Kabut terlihat melintasi puncak. Upi pun tertidur. Dan saya asyik foto-foto. Bosan, saya membangunkan Upi untuk segera melanjutkan perjalanan. Namun Upi enggan karena mengantuk. Dia bilang puncak sudah dekat dan akhirnya saya pun melanjutkan sendiri meskipun tidak sendiri. Banyak pendaki juga baru mulai naik. 



Setengah jam berjalan, petir menghias layar langit Bogor kala itu. Saya masih melanjut. Ketika petir kedua muncul, saya sempat menghentikan langkah sebentar dan sembari berfikir. Belum selesai berfikir, rintik hujan datang. Akhirnya saya memutuskan untuk kembali turun, mengingat persiapan yang kurang ditambah jalur dengan grid 1 meter sisi kanan kiri jurang dan licin.

Sebagian pendaki memakai jas hujan dan melanjutkan perjalanan. Jalur pun jadi antri, 2 arus. Baru kali ini turun gunung dengan posisi sedikit jongkok karena licin curam dan berada di bibir tebing. Sampai pada akhirnya bertemu Upi yang sudah sigap dengan bivak menggunakan jas hujannya. Saya bergabung.

Di dalam bivak, air menerobos masuk perlahan hingga akhirnya berkelompok. Diputuskan untuk turun dengan posisi hujan-hujanan. Saya yang sudah basah kuyup tanpa perlindungan. Upi menggunakan jas hujan dan melindungi kamera slr saya. Menemui shelter dengan 2 orang masyarakat setempat yang sedang menghangatkan diri dengan kayu bakar. Kita bergabung. Tak lama sekelompok pendaki lain datang dan sepertinya kelaparan. Upi pun memasakkan mie instan yang masih tersisa dan memberikan kepadanya. Ternyata kelompok ini adalah sekumpulan teman-teman sebangku sekolah SMA, mereka mendaki tanpa membawa persiapan apa-apa.




Jam 16:00 kita bergegas untuk kembali ke rumah. Pendakian kali ini gagal mencapai puncak. Meskipun tergolong gunung yang mudah didaki saya tetap tidak mau ambil resiko ketika kondisi sekitar sudah tidak memungkinkan untuk terus melanjutkan perjalanan.

Salam, gagal muncak heuheu.

0 comments:

Post a Comment