Content

Friday, January 1, 2016

Lubang Sewu - Dieng

Seminggu sebelum keberangkatan, sebelum ide perjalanan ini muncul, saya dan Baim serta Tyo seperti biasa sedang asyik ngobrol sepulang kerja di depan rumah saya. Tiba-tiba salah seorang menyeletuk untuk berangkat ke Dieng dan saya tanpa pikir panjang menyanggupi dan memesan tiket kereta. Padahal tidak ada waktu libur yang cukup untuk kesana. Dan akhirnya saya putuskan untuk mengambil satu hari cuti kerja.

08 Oktober 2015

Hari ini saya bekerja seperti biasa. Titik kumpul hari ini di Stasiun Senen dengan keberangkatan kereta malam hari. Dan saya tiba paling pertama daripada Baim dan Tyo. Tak lama Tyo muncul. Sedangkan Baim hingga 15 menit menjelang keberangkatan baru datang. Kita memilih menggunakan transportasi kereta api menuju Purwokerto terlebih dahulu sebelum melanjutkan ke Wonosobo. Menggunakan kereta Serayu Malam dengan harga tiket 70ribu. Sayang perjalanan kereta ini bisa dibilang 'muter-muter' karena terbilang lama untuk transportasi kereta api.

09 Oktober 2015
Tiba di Purwokerto sekitar jam 8 pagi. Menyempatkan sarapan bubur ayam di depan Stasiun Purwokerto dengan harga 5 ribu rupiah. Lalu melanjutkan dengan angkutan umum menuju terminal bis Purwokerto sebesar 5 ribu rupiah. Sesampainya di terminal sempat singgah untuk makan mendoan hehe enak. Dari terminal melanjutkan dengan minibis dengan harga 30 Ribu rupiah dengan waktu tempuh sekitar 3 Jam untuk menuju Wonosobo, rumah kakak saya tinggal.

Setelah sholat Jumat dan makan siang, kita melanjutkan perjalanan dari rumah kakak saya menuju Desa Erorejo. Sebuah tempat wisata dadakan di daerah Wadaslintang, Wonosobo yang lagi terkenal. Waduk yang sedang surut ini menjadi terkenal karena karang-karangnya menjadi terlihat dan tampak seperti tebing bebatuan. Tempat ini disebut Lubang Sewu. Beribu lubang tempat bersarangnya ikan-ikan.

Butuh sekitar 2 jam untuk mencapai lokasi ini dengan titik awal keberangkatan Selomerto. Siang itu tidak tampak seperti siang di Ibukota, sejuk. Jalur yang berkelok-kelok dan sesekali menikung tajam ini mengingatkanku kepada jalur Puncak, Bogor. Konon katanya, awal mula tempat ini merupakan sekumpulan dari 25 desa yang terkena gusur demi proyek waduk ini.

Gambar dari Google

Landscape Lubang Sewu (Dokumentasi pribadi)
Lubang Sewu (Dokumentasi pribadi)

Ponakan sekaligus guide (Dokumentasi pribadi)

Saya ! (Dokumentasi pribadi)

Sekitar pukul 16:30 kita pulang. Dan ban motor yang dikendarai oleh Tyo sempat bocor.

10 Oktober 2015
Pagi ini, setelah sarapan, kita bergegas menuju Dieng. Dieng merupakan tujuan awal dari Jakarta. Laju roda terus berputar, melalui kota lalu mengarah ke Garung menuju kearah Telaga Menjer. Sampai di Telaga Menjer hanya menikmati dan foto-foto sebentar saja dari atas jembatan.

Telaga Menjer dari atas jembatan (dokumentasi pribadi)

Melanjutkan perjalanan, kita sempat mampir di Gardu Pandang Tieng untuk buang air kecil sejenak mengingat sepanjang jalan suhu udara terbilang dingin. Sempat berfoto-foto sebentar.

Saya lagi ! (dokumentasi pribadi)

Tujuan awal ketika mencapai Dieng adalah Telaga Warna. Saya lupa harga tiket masuk Telaga Warna. Seingat saya sekitar 5-10ribu (Harga Oktober 2016). Telaga Warna sedang surut, sepertinya memang musim panas sehingga surut seperti halnya Waduk Wadaslintang kemarin. Namun masih tersisa air dan airnya sangat bagus warnanya.

Setelah dari Telaga Warna, menuju Dieng Theatre. Tyo dan Baim masuk untuk melihat filmnya. Sedangkan saya dan Zulhar lebih memilih menunggu diluar sambil menghirup udara segar. Lalu sedikit trekking keatas untuk melihat Telaga Warna dari atas, yang sering disebut Bukit Pandang. Untuk mencapai sini dikenakan biaya lagi sebesar 10 ribu (Harga Oktober 2016).

Selamat Datang ! (dokumentasi pribadi)

Telaga Warna surut (dokumentasi pribadi)

Zulhar di Batu Pandang (dokumentasi pribadi)

Selanjutnya mengunjungi Kawah Sikidang dan Candi-candi. Saya lagi-lagi lebih memilih menunggu dengan Zulhar diluar (Karena sudah terlalu sering ke candi dan menghindari keluarnya uang lagi tentunya hehe). Karena terlalu lama menunggu Tyo dan Baim, saya dan Zulhar akhirnya masuk museum Kaliasa dengan harga tiket 5ribu/orang (Harga Oktober 2016).

Sampai Jumpa lain waktu !(dokumentasi pribadi)


Keterangan :

Lubang SewuUntuk mencapai lokasi ini ada kendaraan mikrobus jurusan Wadaslintang melewati terminal Sawangan belok ke kiri dengan pemberangkatan dari Wonosobo (Terminal Mendolo). Saya tidak tahu berapa ongkosnya. Sedangkan jarak terbilang jauh jika ditempuh dari Terminal Mendolo, kurang lebih 65 km. Saran saya lebih baik menggunakan sepeda motor, selain lebih irit masalah waktu, kita bisa menikmati pemandangan dan udara sejuk sepanjang perjalanan dan TIDAK MACET tentunya (berbahagialah kalian orang Jakarta berkendara di rute ini)

Telaga Menjer, sedangkan untuk menempuh Telaga Menjer arahkan kendaraan anda menuju Dieng. Jauh sebelum Dieng belok ke kiri ketika di pasar Garung. Tidak ada angkutan umum untuk mencapai Telaga ini.

Dieng, Banyak mikrobus menuju Dieng dari pemberangkatan kota/Terminal Mendolo. Dengan waktu tempuh sekitar 1 jam dan estimasi ongkos 15-20ribu.











0 comments:

Post a Comment