Content

Sunday, June 5, 2016

Taman Nasional Ujung Kulon

pic oleh google

Hingga mencapai pertengahan tahun 2016, saya sama sekali belum melakukan hobi saya yaitu jalan-jalan. Karena terlalu sibuk pada kerjaan kantor. Dan pada akhirnya rekan kerja saya, Steve, mengajak saya untuk ikut berwisata ke Taman Nasional Ujung Kulon. Tanpa pikir panjang saya mengiyakan. Salah satu alasan kenapa hingga pertengahan tahun saya baru bisa jalan-jalan dikarenakan tidak ada satu orang teman pun yang mengajak bepergian hahaha.

Steve, berangkat ke taman nasional Ujung Kulon bersama dengan teman-teman kampusnya. Sempat terpikir saya bakalan merasa 'sendiri' ketika disana, namun karena libido untuk liburan sudah memuncak, saya beranikan diri. Ternyata Steve dan teman-temannya menggunakan jasa travel agent. Kali ini menggunakan Media Traveler sebagai tour guide ke taman nasional Ujung Kulon. Ini merupakan kali kedua saya menggunakan travel agent. Seperti biasa setingan hari adalah Jumat malam hingga Minggu malam, favorit pekerja.

Jumat, 13 Mei 2016
Jam menunjukkan pukul 17:30 Wib. Saya dan Steve tepat waktu meninggalkan kantor. Menuju rumah Steve di daerah Petamburan. Setelah selesai keperluan di rumah Steve, kita segera menuju meeting point di Plaza Semanggi. Sampai sana masih sepi. Saya sempat membeli bekal makanan terlebih dahulu. Sekitar pukul 22:00 wib kita berangkat dengan menggunakan mini bis milik brimob. Lalu beristirahat sepanjang jalan.

foto sebelum berangkat

Sabtu, 14 Mei 2016
Pukul 05:00 rombongan tiba di Sumur, titik terakhir sebelum menyebrang menuju taman nasional Ujung Kulon. Sarapan dan bersiap-siap. Semua terlihat antusias. Sekitar jam 07:00 rombongan berjalan menuju tempat penyebrangan. Satu-persatu menaiki kapal.

foto (lagi) sebelum berangkat

Awalnya saya sempat curiga karena kapal yang ditumpangi terlalu kecil untuk menyebrang, meskipun yang lain hanya diam dan sudah terlena dalam hiruk pikuk lautan. Dan ternyata sampan kecil ini hanya sebagai penghubung menuju kapal yang lebih besar.

Sampan kecil

Setelah memijakkan kaki diatas kapal, sebagian mengambil posisi masing-masing. Karena menurut guide, Zico dan John, perjalanan memakan waktu 3 jam. Saya hanya meletakkan tas saya sembarangan, tetapi tas kamera tetap dalam jangkauan. Dengan segera saya meminta izin kepada Zico untuk naik keatas kapal. Mumpung matahari belum keluar terlalu banyak. Terbuai dengan angin laut saya pun tertidur diatas kapal. Kurang lebih satu jam tertidur. Hingga tujuan awal Pulau Cidaon saya tetap berada diatas kapal.

Sekitar pukul 10:00 tiba di pulau Cidaon. Setelah turun kapal, kita semua berdiri diatas dermaga. Sekitar 25 orang berdiri di titik yang sama. Dan hingga akhirnya dermaga menyerah dengan beban 25 orang ini, lalu ambruk. Tiga orang tersungkur ke dalam air, cukup dalam. Beberapa berhasil menyelamatkan diri. Dan beberapa luka-luka. Go pro dan Iphone pun jadi korban karena ikut menyemplung ke dalam air. Beruntung waktu itu saya yang sedang membawa seperangkat kamera saya berada di posisi yang aman meskipun jarak lokasi ambruk dengan posisi saya tak sampai semeter. Kala itu saya sedang duduk di pondasi dermaga.

foto (lagi) diatas kapal

Mengunjungi pulau Cidaon adalah untuk melihat satwa langka, Badak Bercula satu. Saya sendiri tidak antusias pada aktivitas ini. Kehadiran manusia sudah pasti mengganggu satwa ini. Sejak awal Zico dan John sudah memberi tahu peserta supaya jangan terlalu mengeluarkan suara berlebihan. Tapi naluri binatang terhadap kehadiran manusia jauh lebih matang, sehingga sesampainya di lokasi tidak ditemukan satu pun satwa langka ini. Hanya ditemukan kotoran badak yang tergolong masih baru saja.

berjalan menuju lokasi melihat badak

sebuah lapangan luas dimana tempat berkumpulnya badak, namun tidak terlihat satupun

Lalu setelah dari Cidaon, rombongan menuju pulau Peucang. Saya menggebu-gebu. Ekspektasi pulau Peucang yang memiliki air biru masih terus membayangi pikiran ini. Sejak 2012 ingin mengunjungi tempat ini, namun baru diberi kesempatan sekarang. Sesampainya disana, ternyata semua seusai ekspektasi saya. Biruuuuuu. Saya sungguh bersyukur bisa pergi kesini. Dan pengunjung pun tidak terlalu banyak. Lautnya bersih, tidak terlihat sampah. Berbeda dengan cerita seorang teman yang baru saja mengunjungi tempat ini seminggu sebelum saya berangkat.

Saya lantas segera berganti pakaian dan menyebur. Tidak peduli cuaca yang sangat terik. Saya tidak takut kulit saya menggelap, karena memang sudah gelap haha. John mengajak menuju titik snorkling di bibir pantai. Saya tidak berani karena memang kaki saya masih terkilir seminggu yang lalu. Saya hanya tidur-tiduran menggunakan hammock. 

Setelah selesai, kita meninggalkan pulau Peucang dan menuju titik snorkling selanjutnya. Tidak jauh dari pulau Peucang. Dan airnya masih tetap biru. Kali ini saya memberanikan diri untuk turun. Meskipun setiap beberapa menit harus mengistirahatkan kaki kanan saya. Jam 16:00 selesai, dan hujan langsung menyambut. Kita bergegas menuju pulau Handaleum untuk menginap disana. Perjalanan memakan waktu 2 jam.

Sesampainya di pulai Handaleum, masing-masing individu disibukkan mencari kamar. Saya seperti biasa tidak terlalu memikirkan tempat haha. Saya langsung bergegas untuk mandi, karena terakhir kali mandi adalah hari Jumat pagi sebelum berangkat kerja. Udah lengket dan gatal badan ini. Dan benar saja, setelah saya selesai mandi, teman-teman lainnya berebutan kamar mandi haha. Dan menjelang tidur giliran saya yang dibingunkan untuk mencari tempat untuk tidur. Karena kamar sudah penuh. Zico pun menghampiri dan mengeluarkan mattrass cadangan 2 buah. Satu buatnya satu buat saya, yeay!. Kita pun tidur dibawah tangga haha. Sedangkan John lebih memilih tidur diluar homestay menggunakan hammock.

Minggu, 15 Mei 2016
Sekitar pukul 10:00 rombongan bergegas dari pulau Handaleum menuju Sungai Cigenter untuk bermain kano. Lumayan berkeringat juga kegiatan mendayung ini. Kekuatan tangan sangat dibutuhkan ketika mendayung.

menyisir sungai Cigenter

menyisir sungai Cigenter (2)

titik awal kano

Setelah selesai berkano-ria. Rombongan kembali ke kapal. Sembari menuju kembali ke Sumur. Di perjalanan, kita mencari arus laut yang tidak terlalu deras, karena akan melakukan makan siang dan snorkling lagi jika ada yang ingin. Saya tidak ingin, karena air tidak berwarna biru.

Sekitar pukul 15:00 tiba di Sumur. Dan segera bersih-bersih untuk kembali ke Jakarta. Sebelum kembali ke Jakarta, Jhon dan Zico menjanjika peserta untuk bisa berfoto dengan badak. Karena kemarin tidak bisa bertemu dengannya. Dan setelah kurang lebih 20 menit berjalan. Kita tiba dimana Jhon dan Zico akan memenuhi janjinya untuk bertemu dengan badak. Dan badak tersebut ternyata sebuah patung. haha, great point mate! .

foto (kesekian kali) di dalam bis sebelum menuju Jakarta

foto sama badak, badak patung

Sekitar pukul 22:00 wib rombongan tiba di Jakarta.


Pesan :
Saya membawa seperangkat kamera digital SLR, dan hampir dipastikan tidak terpakai sama sekali. Hal ini dikarenakan saya banyak beraktivitas di dalam air. Ada seorang peserta yang membawa alat yang sama seperti saya, tapi beliau tidak begitu banyak bergerak di dalam air sehingga lebih banyak mengabadikan momen termasuk ketika momen dermaga ambruk. Jadi lebih baik dipikirkan terlebih dahulu sebelum membawa tipe kamera seperti saya ini.
Baiknya membawa kamera yang simple dan tahan di dalam air seperti Go Pro.




0 comments:

Post a Comment